The 6 Reasons Why Most Training Do Not Work (Long Term) And What To Do Next...

Surabaya, 08 Agustus 2014

Begitu banyak marketing telah mengikuti training, seberapa besar pengaruh training meningkatkan kemampuannya. Patut diukur untuk menentukan efektifitas dari training. Khusus untuk training yang berkait dengan "Skill", seharusnya bisa berpengaruh pada hasil kerja marketing.
Yang sering terjadi.......
Marketing sangat bersemangat menemukan sesuatu yang baru dalam ruang training. Ketika kembali ke tempat kerjanya marketing melakukan hal yang sama atau mengabaikan "Skill" yang baru.
Mengapa hal ini terjadi terus......

Alasan Pertama:
"People Will Never Consistently Do...Who They Aren't"

Penjelasannya :
Orang cenderung melakukan hal yang sama, yang sudah menjadi "zona nyaman". Cara-cara yang selaras dengan keyakinan dan nilai-nilai dalam dirinya. Tidak mudah mengubahnya dengan hal baru, cara baru yang berbenturan dengan konsepnya yang lama.
Selama training "Skill" yang baru perlu dibicarakan tentang sikap, keyakinan dan nilai-nilai yang salah. Perlu untuk mengubahnya menjadi lebih baik dan manfaat yang diperoleh dari "Skill" yang baru.
Karena :
"People will do consistently who they are"
Perlu dipahami :
Training yang tidak dipraktekkan adalah biaya.
Training yang mampu mengubah praktek di lapangan adalah ... sebuah investasi.

Alasan Kedua:
"Downturn Effect"
Penjelasannya :
Pengalaman menunjukkan seringkali "Skill" yang baru memberikan hasil yang menurun (sementara). Peningkatan terjadi berikutnya, sangat disayangkan sikap marketing yang langsung kembali ke "Skill" yang lama.

Contoh :
Orang yang tidak dilatih secara benar dalam olahraga sering melakukan banyak kesalahan mendasar. Misalnya, cara memegang raket untuk pe-bulu tangkis atau pe-golf dengan stik golfnya. Bila suatu saat diberi kesempatan dilatih oleh pelatih profesional maka pasti dilakukan perbaikan skill dasar tersebut, efeknya pasti cara bermainnya tidak nyaman dan hasil tidak bagus. (sementara)
Contoh lain :
Broker yang bekerja dengan open listing, mendapat training profesional broker untuk mendapat eksklusif listing. Pada awalnya Broker menggunakan "Skill" untuk mendapat eksklusif listing akan mempengaruhi hasil. Tapi bila konsisten pasti "Skill" yang profesional akan menghasilkan.

Alasan Ketiga:
"Practice is Mother of Skill"
Marketing ingin yang "instan". Sayangnya tidak ada cara cepat untuk menguasai "Skill". Tentu beda sekedar "bisa" dan menjadi "mahir".
Pemain bola perlu berlatih setiap hari dalam seminggu, sebelum bertanding hanya "90 menit". Seorang marketing yang setiap hari "bertanding" dengan prospek. Berlatih hanya "90 menit" dalam seminggu. Beda sekali !
Dalam berlatih kita boleh salah, dalam pertandingan, kesalahan harus dibayar mahal.

Alasan Keempat:
" It Takes Time"
Dibutuhkan waktu cukup untuk menguasai "Skill" yang baru sebaik "Skill" yang lama.
Sebuah contoh yang jelas.
Pada saat kita mengganti PC (Personal Computer) dengan Laptop. Berikutnya mengganti Laptop dengan Ipad. Keterampilan kita mengoperasikan peralatan yang baru berubah. Perlu waktu untuk menguasai peralatan yang baru dengan baik.
Berapa kali harus belajar "windows" yang baru? Berapa lama kita menguasai software baru yang lebih canggih? Apakah kita bertahan dengan yang lama? Setiap training dibutuhkan kesungguhan dan penghargaan serta merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan.

Alasan Kelima:
"Forgeting"
Kemampuan manusia mengingat sangat terbatas. Informasi yang di dapat dalam training akan segera hilang dalam waktu cepat. Dalam hitungan jam, 60% akan terlupakan. Dalam satu bulan 80% tidak mampu diingat lagi.

Solusinya!......
Terus-menerus me-review semua materi yang diberikan dalam training dan mempraktekannya. Mereview setiap hari, minggu dan bulan.

Alasan Keenam:
"Motivation an Inside Job!"
Motivasi marketing untuk lebih berprestasi. Keyakinannya, training sangat berpengaruh terhadap prestasi, akan mendorong marketing mempraktekannya "Skill" yang baru.
Dorongan yang besar dipengaruhi kondisi psikologisnya. Ada dua dorongan untuk marketing mau menggunakan "Skill" yang baru.

"Away Motivation and Toward Motivation"
Away Motivation memberi dorongan lebih besar. Manusia termotivasi untuk menghindari "kesusahan" dibanding mengejar "kesenangan". Training yang lebih memotivasi akan mendorong "Away Motivation". Marketing perlu memahami kesulitan yang akan terjadi bila mereka tidak meningkatkan "Skill". Menggunakan "Skill" yang baru.


Yafet Kristanto
Pebruari 2014

RUKO RAYA RANDU
LT: 180    LB: 250

HAK MILIK
IDR: 3800000000 -
RUMAH MEDOKAN SEMAMPIR SELATAN
LT: 200    LB: 180

HAK MILIK
IDR: 2100000000 -
RUKO KLAMPIS JAYA
LT: 160    LB: 326

HAK MILIK
IDR: 7000000000 -
RUMAH KUSUMA BANGSA
LT: 389    LB: 150

HAK PAKAI
IDR: 250000000 -